Powered By Blogger

Wednesday, August 13, 2008

Ancaman Dibalik Wabah Grafiti di Cirebon



Teori jendela pecah. Kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling menelorkan teori broken windows, jendela pecah, untuk menerangkan asal muasal epidemi tindak kejahatan. Paparannya yang menarik dap[at anda baca di bukunya Malcolm Gladwell, The Tipping Point : How Little Things Can Make a Big Difference (2000).

Keduanya berpendapat, kriminalitas merupakan akibat tidak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan, siapa pun yang lewat terdorong menyimpulkan pastilah di lingkungan tersebut tidak ada yang peduli. Atau rumah itu kosong.

Dalam waktu singkat akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu. Di sebuah kota, awal yang remeh seperti corat-coret grafiti, ketidakteraturan, dan pemalakan, semua setara dengan jendela pecah, ajakan untuk melakukan kejahatan yang lebih serius lagi. Buku The Tipping Point tadi bahkan menyimpulkan, “bahwa orang yang setiap hari lewat di jalanan bersih atau naik kereta api yang serba rapi cenderung akan menjadi orang lebih baik ketimbang bila mereka setiap hari lewat di jalanan penuh sampah dan naik kereta atau bus kota penuh corat-coret.”

Itukah pula ancaman besar tindak kejahatan yang akan marak dan meruyak di Wonogiri ? Karena lanskap kota Wonogiri yang kurang elok itu kini terasa makin sesak dengan munculnya corat-coret grafiti. Mari kita telusuri panorama hasil corat-coret artis jalanan yang tidak berani memunculkan jati dirinya secara terus terang itu :


KEKACAUAN VISUAL. Grafiti di atas tergores pada tembok bangunan rumah di Jl. Kabupaten. Apa makna pesan di balik corat-coret itu ? Sulit difahami. Tetapi karya “seni lukis jalanan” itu berperan menambah kekacauan visual bagi warga kota kecil ini. Dan adakah pengaruh buruknya bagi psike mereka ?


TANGGA MERAIH PENGAKUAN ? Penjual tangga bambu sedang melintas di jalan sekitar komplek SMA Negeri 1 Wonogiri. Adakah para siswa sekolah ini pula yang membuat grafiti di dekat sekolah mereka tersebut ? Kalau benar, apakah aksi mereka itu sebagai akibat lingkungan sekolah mereka yang justru tidak kondusif untuk menyalurkan energi “bomber” mereka yang meluap-luap ? Mengapa mereka memilih “jalan gelap” untuk meniti tangga guna meraih pengakuan, bahkan kemashuran ?



PARADOKS MENCARI CINTA. Para “bomber” atau pelukis grafiti itu suka menyembunyikan jati dirinya. Dapat dimaklumi, mereka itu dapat dianggap telah melakukan tindakan yang tidak terpuji. Tetapi lihatlah, mereka mempromosikan diri agar dijadikan pacar, seperti tertuang dalam karyanya (atas, di menara waduk Gajah Mungkur) dan di daerah Sanggrahan, pada tembok Jl. Dr Wahidin, timur SDN Wonogiri 1. Bagaimana seseorang dapat mengenal mereka, lalu bisa menjadi pacar mereka, kalau para bomber itu selalu menyembunyikan jati dirinya ?


OPERASI RAHASIA. Para “bomber” itu kiranya orang-orang malam. Mereka beraksi ketika malam tiba. Lihatlah, karya di atas itu tergores pada tembok jalan di Jl. Pelem 3, persis di utara markas Kodim 0728 Wonogiri. Operasi rahasia mereka sukses, bahkan di dekat markas tentara !


AKTORNYA ITU-ITU SAJA ? Dari pelbagai motif grafiti yang ada di Wonogiri segera nampak bahwa karya-karya tersebut dilakukan oleh “pe-bomber” yang sama. Karya di atas terletak di pintu garasi sebuah rumah di Jl. Kartini.

APA INTI PESAN MEREKA ? Grafiti ini terdapat di tembok rumah/toko Tukang Gigi Jaya Leo di dekat Ponten. Tepatnya di sebelah selatan Bank Jawa Tengah. Apakah Anda bisa meraba arah pesan dari grafiti satu ini ?

KARYA SENI YANG HILANG. Tembok di dekat garasi bis Giri Indah, Jl. Kartini, semula nampak meriah dengan grafiti. Kemudian cat hitam telah membuat karyanya yang dikerjakan sang “bomber” alias seniman jalanan dengan sepenuh hati dan mungkin dalam hitungan beberapa malam itu, akhirnya bernasib lenyap dari pemandangan.

Langka kanal berekspresi ? Mengapa tiba-tiba grafiti marak dan apa kira-kira akibat jangka panjangnya bagi Wonogiri ? Ada dugaan, generasi muda di Wonogiri selama ini merasakan kesulitan untuk berekspresi secara otentik dalam mengaktualisasikan potensi mereka.

Sekadar contoh : secara rutin berlangsung di Wonogiri pelbagai acara budaya kolosal gagasan Pemkab. Seperti Kirab 1000 Keris, Kirab Umbul-Umbul dan Kirab Benda-Benda Pusaka yang melibatkan ribuan pelajar. Tetapi sangat jelas, kita semua tahu, aktivitas semacam itu bukan acara “mau” otentik mereka. Aktivitas semacam itu bukan otentik “milik dunia” mereka. Tetapi mereka harus ikut karena perintah guru, guna membawa nama sekolahnya.

Mungkinkah kesumpekan semacam itu yang mendorong mereka bergerilya, berekspresi, mencoret-coret tembok kotanya ? Untuk mengkritisi beragam kegiatan seremonial yang disukai pembesar Pemkab Wonogiri dan potret aktivitas kalangan pelajar di Wonogiri, saya pernah berkomentar dengan menulis surat pembaca seperti tertuang di bawah ini :


Perpustakaan di Wonogiri
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Rabu, 8 November 2006

Sekolah masa kini bukan lagi ibarat Matahari dan para murid sebagai planet-planet yang mengelilinginya. Para guru dan orang tua juga bukan satu-satunya sumber bagi mereka untuk memperoleh pengetahuan dan kearifan. Wawasan ini menyelinap ketika menyaksikan pelajar Wonogiri pada hari pertama masuk sekolah sesudah Liburan Lebaran. Hari itu, sesudah ritus halal bihalal, jam belajar ditiadakan, dan murid-murid pun diijinkan pulang.

Sebagian dari mereka berbondong-bondong menyerbu pasar swalayan. Ada juga yang nongkrong-nongkrong di pasar. Setahu saya untuk kota sebesar Jakarta pada setiap kompleks pertokoan telah dipasang pesan yang melarang pelajar berseragam untuk keluyuran di pusat-pusat perbelanjaan tersebut. Saya tidak tahu mengapa larangan yang sama tidak diterapkan di Wonogiri.

Yang kiranya boleh saya menduga, mereka menyerbu pasar swalayan karena sebagai satu-satunya tempat yang menarik. Mereka bisa melihat barang-barang bagus, sekaligus bisa melambungkan impian untuk bisa memilikinya. Di tempat berpendingin itu impian-impian mereka memperoleh rumah yang nyaman.

Celakanya, hanya impian sebagai konsumen. Sementara impian sebagai kreator, produsen, mungkin tidak memiliki tempat untuk subur berkembang. Baik di kelas, di rumah, di ruang-ruang perpustakaan sekolah atau umum, juga tidak bergejolak di lapangan-lapangan olah raga. Mereka tidak betah di sana.

Apalagi fasilitas umum untuk mengembangkan intelektualitas, bakat seni dan bakat olahraga di kota kecil Wonogiri, nampak belum mendapat perhatian yang berwenang secara memadai. Tidak hanya menyangkut bangunan fisiknya, tetapi terutama muatan kegiatannya yang mampu menarik generasi muda. Perpustakaan umum Wonogiri hadir dengan ruangan seadanya, lebih banyak lengang karena lokasinya dipencilkan, berada di luar lalu lintas ramai para pelajar.

Wonogiri konon tinggal satu-satunya kabupaten di Jateng yang tidak memiliki mobil/perpustakaan keliling. Warung Internet satu-satu berguguran. Sementara aktivitas anak muda justru cenderung dikooptasi birokrat hanya sebagai barisan pion guna meraih prestasi-prestasi semu yang tidak ada nilai-nilai edukasinya yang tinggi.

Mungkin itulah penyebab mengapa Wonogiri masih termasuk daerah tertinggal dalam hal pembangunan sumber daya manusia. Apalagi, otak-otak terbaik asal daerah ini lebih suka berkiprah di kota lain. Bahkan tidak jarang, mereka pun malu untuk mengaku sebagai wong Wonogiri. Dari mana harus mulai untuk bisa meretas lingkaran setan seperti ini ?

Neutron detection on the Foton-M2 satellite by a track etch etector stack

Baju Sapta Wibiksana,


In the frame of a European Space Agency (ESA) project called ‘Biology and Physics in Space’, a returning satellite, Foton-M2, was orbiting a container, the BIOPAN-5, loaded with biological experiments and facilities for radiation dosimetry (RADO) in the open space. One of the RADO experiments was dedicated to the detection of the primary cosmic rays and secondary neutrons by a track etch detector stack. The system was calibrated at high-energy particle accelerators and neutron generators. The developed detectors were investigated by an image analyser, and from the track parameters the linear energy transfer spectra and the absorbed dose were determined (26 µGy/d). Also, the neutron flux was estimated below 5 MeV and found to be 2.4 cm–2 s–1 directly from the space. The construction of the stack allowed to investigate the neutrons also from the direction of the carrying satellite, where the flux was found somewhat higher.

Grafiti Action


Ditulis untuk Sahabatkoe...

“Sebuah Kontroversi, Antara Seni, Perlawanan dan Vandalisme”

“Berasal dari bahasa Yunani “Graphein” (menuliskan), yang bisa diartikan sebagai sebuah coretan gambar atau kata-kata pada dinding atau permukaan ditempat-tempat umum, atau tempat pribadi”


Dinding dan graffiti
Diding memang menjadi satu media utama bagi para seniman graffiti. Permukaan yang luas dan datar menjadi salah satu alasanya. Aktifitas menulis di dinding sudah menjadi satu budaya sejak jaman primitive. Digunakan sebagai sarana komunikasi, bahkan juga digunakan untuk menggambarkan mistisme dan spiritual manusia pada massa itu. Tentu saja berbeda alasanya, kenapa pada masa primitive, dinding digunakan sebagai medianya. Kain atau kulit tentunya lebih penting digunakan sebagai pelindung tubuh, daripada untuk dicorat-coret. Materi yang digunakan untuk mencorat-coret pun juga sangat sederhana. Arang, kapur atau batu adalah salah satu bahan materi, dengan objek yang umumnya menggambarkan binatang atau gambar tentang perburuan.

Namun dibalik satu keserhanaan dari graffiti pada masa itu, baik materi dan medianya, bahkan juga tujuanya. Tetapi telah menyumbangkan satu bentuk catatan sejarah yang menggambarkan kondisi dan perilaku social pada masa itu. Mewariskan satu bentuk ekspresi seni, ternyata juga ditinggalkan oleh graffiti-graffiti, yang kemudian sampai sekarang ini hal tersebut masih dilakukan.

Perkembangan zaman dan perubahan tatanan masyarakat ternyata memberi dampak yang cukup besar bagi perkembangan seni graffiti. Yang awalnya hanya sebagai satu media komunikasi, lambat laun berkembang menjadi satu media perlawanan dan protes. Mulai terpisahkanya masyarakat dalam bentuk kelas-kelas, dan membuat satu kelas tertentu merugikan kelas yang lain. Karena perlawanan secara fisik dari dolongan yang lemah dirasa dan secara nyata sering mengalami kekalahan, maka pada akhirnya graffiti muncul sebagai satu bentuk perlawanan baru dari kelas atau golongan yang kalah. Tak sekedar sebagai bentuk baru dalam perlawanan, graffiti juga menjadi media pembangunan kesadaran akan bagi kelas social masyarakat yang tergilas oleh kelas yang lain. Seolah-olah graffiti memberikan kita satu pembelajaran dan ajakan untuk melihat kondisi realitas social yang ada, dan tidak diam menghadapi hal itu. Contohnya adalah pada masa kekuasaan romawi yang begitu besar, yang berakibat semakin lebar dan jelasnya pembentukan kelas dalam masyarakat social. Disana pula ternyata sudah ada bentuk graffiti yang sudah berfungsi sebagai bentu protes.

Arang dan kapur sebagai material dalam melakukan graffiti telah berganti menjadi cat, dan sampai saat ini telah berubah mencadi cat semprot tak membuat dinding di tinggalkan sebagai media dari material tersebut. Dengan beralih fungsinya graffiti yang tidak sekedar sebagai alat komunikasi tetapi juga telah menjadi alat perlawanan, maka dinging tetap menjadi media utamanya. Khusunya dinding-dinding yang berada di tempat-tempat umum. Menjadi satu perhatian dan dilihat banyak orang, sehingga memeberikan satu pengaruh yang lebih luas dari pesan yang hedak disampaikan oleh graffiti, adalah kenapa tidak berubahnya dinding sebagai medianya. Bahkan permukaan-permukaan datar di tempat-tempat umum, seolah-olah menjadi tempat yang faforit bagi para graffiti tersebut.

Antara seni, perlawanan dan vandalisme
Seni adalah satu bentuk ekspresi kreatif manusia. Seni juga sangat sulit diartikan atau dinilai. Setiap individu, baik sang seniman ataupun penikmat seni itu sendiri, bisa membuat satu parameter untuk menentukan nilai dan artian dari sebuah karya seni. Ini menunjukan bahwa kebebasan adalah tuhan dari seni itu sendiri.

Pada massa modern sekarang ini, graffiti pun mengalami satu perkembangan dalam tujuanya. Untuk menunjukan satu identitas pribadi, seperti yang dilakukan oleh seorang Amerika yang bernama Taki. Yang selalu menuliskan namanya, entah itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian membuat Taki menjadi terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak anak muda disana, yang seperti terinspirasi oleh Taki, karena hanya dengan melakukan coretan nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi terkenal. Graffiti juga dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sekali lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya.

Mutasi motifasi ini tak bisa kita katakan sebagai sesuatu yang bukan seni. Bukan pembenaran, bahwa seni itu adalah kebebesan. Namun bisa juga kita katakan, kalau corat-coret di tempet umum yang hanya sekedar unutk menunjukan satu identitas saja adalah bentuk seni juga. Walaupun mungkin dalam satu levelan yang berbeda.

Sedikit berbeda bentuk dari coretan cat semprot yang dihasilkan oleh pelaku graffiti ynang bermotifasi untuk meperkenalkan identitas pribadi atau golonganya, dengan pelaku yang melakukan graffiti sebgai media propaganda atau kritik atas satu kondisi sosial yang ada. Umumnya pelaku graffiti yang menjadikan graffiti sebagai media perlawanan dan penyadaran, dalam graffitinya selalu meninggalkan pesan-pesan pagi orang yang melihatnya. Sehingga hasil dari coretan tersebut pun, bukan sekedar kata-kata atau tulisan. Namun juga banyak menampilkan gambar-gambar, yang kemudian diolah sedemikian rupa, sehingga juga terlihat sebagai sebuah ekspresi kreatif. Kalaupun bentuk penyampaianya hanya berupa tulisan atau coretan, namun ketika coretan tersebut mempunyai makna, pesan atau kritik sosial, maka makna, pesan ataupun kritik sosial dari coretan tersebut adalah sebuah bentuk seni tersendiri. Karena seni itu sendiri, dalam benutknya yang luas akan selalu meningggalkan pesan.

Dan graffiti yang merupakan satu dari sekian banyak farian dalam bidang seni. Namun dinding dan tempat umum yang digunakan sebagai media seni dari graffiti, membuat banyak orang tidak menganggap itu sebagai seni, melainkan melihat graffiti sebagai sebuah perilaku yang merusak sarana dan kepentingan public.

Vandalisme, adalah satu stigma yang sering diungkapakan orang terhadap pelaku graffiti maupun graffiti itu sendiri. Pada hakekatnya, vandalisme sendiri merujuk pada perusakan atas barang milik orang lain termasuk juga barang yang diperuntukan untuk kepentingan public. Namun vandalisme mempunyai aspek emosi dalam melakukanya. Geram dan kesal atau bahakan hanya sekedar untuk melepaskan kebosanan semata, adalah motif dari vandalisme. Jelas memang, ketika merusak kepentingan publik dengan muatan emosi sebagai satu motifasinya, maka bisa kita katakan dia sebagai bentuk dari vandalisme. Berbeda dengan graffiti yang menjadi bagian dari seni, yang lebih menekankan pada unsur penyampaian pesan dan kebebasan berekspresi.

Memang tidak bisa kita jadikan pembenaran, bahwa kebebeasan berekspresi bisa disampaikan dengan media apa saja temasuk dinding dan sarana publik sebagai medianya. Namun juga harus kita perhatikan dewasa ini, untuk mendapatkan sarana melampiaskan ekspresinya, seniman harus benyak mengeluarkan uang. dan mengeluarkan uang untuk berekspresi, ternyata tidak mampu dilakukan oleh para seniman jalanan. Maka digunakanlah dinding sebagai media mereka, selain pertimbangan utama bahwa sarana tempat-tempat umum adalah media yang paling tepat untuk digunakan dalam graffiti, karena graffiti harus meninggalkan pesan yang seharusnya pula dilihat oleh banyak orang.

Tidak sedikit memang orang yang masih menganggap graffiti sebagai sebuah perilaku vandalisme, hanya karena media yang digunakan adalah sarana publik. Namun juga banyak orang yang melihat graffiti merupakan sebuah bentuk ekspresi seni, yang jauh lebih baik ketimbang dinding-dinding dipenuhi dengan pesan-pesan komersial. Dan sekali lagi, graffiti juga patut kita hargai sebagai karya seni. Dan perbedaan ini mungkin menjadi pembenaran bahwa graffiti merupakan sebuah kontroversi.

Graffiti action sebagai sebuah komoditi
Tak bisa dipungkiri, bahwa graffiti action telah menjadi satu fenomena tersendiri di masyarakat. Khusunya bagi anak muda yang umumnya menjadi pelaku graffiti. Terlepas maksud dan tujuan dari graffiti action tersebut, baik yang pure seni ataupun yang memang ditujukan sebagai bentuk protes. Namun hal ini seperti sudah menjadi satu trend tersendiri dikalangan anak muda.

“Pasar” memang mempunyai mata dimana-mana. Dimana dia melihat fenomena dan besarnya antusias akan sesuatu hal, maka dia akan menjadikan hal itu sebagai komoditi untuk mendapatkan keuntungan baginya. Contoh sederhanya adalah game play station yang bertemakan graffiti action, walaupun mungkin tidak terlalu laku dipasaran. Namun “pasar” telah memperlakukan graffiti sebagai sebuah komoditi. Tak ada larangan memang mengenai hal ini, mengenai apa yang hendak dilakukan oleh “pasar” itu.

Karena kondisi seperti ini mempunyai dua sisi yang berbeda bagi graffiti. Graffiti akan menjadi sangat banyak peminat atau pelakunya, namun disisi lain graffiti seolah-olah telah menjadi barang dagangan. Untuk yang kedua, tentunya sangat buruk dampaknya bagi graffiti. Karena graffiti, seperti halnya hakekat dari seni yang bertujuan untuk ekspresi bebas dan tidak untuk diperjualbelikan. Jika hal ini terus berlanjut, mungkin kita tak akan heran satu saat, untuk melihat graffiti action harus mengeluarkan sejumlah uang.

Dan yang mampu untuk melakukan perlawanan terhadap proses penghianatan terhadap graffiti sebagai seni, yang seharusnya tidak diperjualbelikan adalah graffiti itu sendiri. Pada saat yang sama, maka graffiti yang sejati akan melakukan perlawanan atas kondisi ini. Dinding jalan akan semakin penuh dengan coretan, tembok-tembok publik pun akan sesak dengan berbagai macam tulisan atau gambar bernada protes. Tak hanya protes terhadap kondisi dimana graffiti menjadi komoditi, tapi juga protes terhadap sistem yang mem buat graffiti menjadi komoditi.

What is a Hacker?

Bayu Sapta W S,

In one sense it's silly to argue about the ``true'' meaning of a word. A word means whatever people use it to mean. I am not the Academie Française; I can't force Newsweek to use the word ``hacker'' according to my official definition.

Still, understanding the etymological history of the word ``hacker'' may help in understanding the current social situation.

The concept of hacking entered the computer culture at the Massachusetts Institute of Technology in the 1960s. Popular opinion at MIT posited that there are two kinds of students, tools and hackers. A ``tool'' is someone who attends class regularly, is always to be found in the library when no class is meeting, and gets straight As. A ``hacker'' is the opposite: someone who never goes to class, who in fact sleeps all day, and who spends the night pursuing recreational activities rather than studying. There was thought to be no middle ground.

What does this have to do with computers? Originally, nothing. But there are standards for success as a hacker, just as grades form a standard for success as a tool. The true hacker can't just sit around all night; he must pursue some hobby with dedication and flair. It can be telephones, or railroads (model, real, or both), or science fiction fandom, or ham radio, or broadcast radio. It can be more than one of these. Or it can be computers. [In 1986, the word ``hacker'' is generally used among MIT students to refer not to computer hackers but to building hackers, people who explore roofs and tunnels where they're not supposed to be.]

A ``computer hacker,'' then, is someone who lives and breathes computers, who knows all about computers, who can get a computer to do anything. Equally important, though, is the hacker's attitude. Computer programming must be a hobby, something done for fun, not out of a sense of duty or for the money. (It's okay to make money, but that can't be the reason for hacking.)

A hacker is an aesthete.

There are specialties within computer hacking. An algorithm hacker knows all about the best algorithm for any problem. A system hacker knows about designing and maintaining operating systems. And a ``password hacker'' knows how to find out someone else's password. That's what Newsweek should be calling them.

Someone who sets out to crack the security of a system for financial gain is not a hacker at all. It's not that a hacker can't be a thief, but a hacker can't be a professional thief. A hacker must be fundamentally an amateur, even though hackers can get paid for their expertise. A password hacker whose primary interest is in learning how the system works doesn't therefore necessarily refrain from stealing information or services, but someone whose primary interest is in stealing isn't a hacker. It's a matter of emphasis.

Thursday, July 10, 2008

Kemiskinan

Kemiskinan

Bukan rahasia lagi, pemberdayaan ekonomi kerakyatan di perdesaan menghadapi berbagai masalah yang tidak sederhana. Dari sekitar 65.554 desa di Indonesia, lebih kurang 51 ribu desa merupakan desa perdesaan, dan sekitar 20.633 desa diantaranya tergolong miskin. Kemiskinan yang diderita masyarakat desa, khususnya petani dan nelayan tradisional, antara lain akibat pengurasan asset perdesaan selama ini. Berbagai pemberdayaan perekonomian rakyat di perdesaan kurang berhasil, dan kemiskinan itu sudah diterimanya sebagai warisan yang turun temurun.

Kondisi yang dilematis.
Muncul perilaku ketergantungan dan ketidakberdayaan masyarakat dalam upaya peningkatan kesejabteraannya sendiri. Kreativitas dan prakarsa masyarakat, rendah. Itulah persoalan yang rata-rata terjadi di perdesaan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Banyak faktor yang saling berkait.

Selama ini pembangunan fisik tanpa pengikutsertaan partisipasi masyarakat. Pola demikian paling mungkin menjadi penyebab rendahnya kreativitas dan prakarsa masyarakat, bahkan "membudayanya" perilaku ketergantungan itu tadi. Apalagi pembangunan fisik yang dilakukan tanpa dibarengi pengembangan SDM. Ditambah lagi dengan pembangunan PSD perdesaan belum didasarkan pada sisi kebutuhan saja, sehingga efisiensinya tidak optimal.

Pembangunan dan perkembangan perdesaan jauh tertinggal dibandingkan dengan perkotaan. Sentra-sentra kegiatan ekonomi utama perdesaan yang berbasis pada agrobisnis dan pemanfaatan sumber daya alam belum berkembang secara optimal. Sektor ekonomi lainnya, seperti industri kecil dan kerajinan rakyat masih sangat terbatas.

Sarana dan prasarana perdesaan, terutama jaringan jalan, air bersih den sanitasi sangat tidak memadai. Selain itu sarana dan prasarana pengairan yang telah dibangun serta O&P-nya ditangani pemerintah dalam kondisi kurang terpelihara.

Produktivitas Rendah
Permasalahan yang juga serius adalah kerusakan lingkungan di perdesaan semakin meluas. Hal itu akibat pemanfaatan sumber daya alam serta usaha agrobisnis yang kurang didasarkan pada kaidah-kaidah konservasi, penyebab terjadinya berbagai macam bencana yang menimpa masyarakat perdesaan.
Dalam segi produktivitas, harus diakui bahwa penguasaan teknologi dan SDM belum memadai, sehingga produktivitas petani masih rendah, tidak mampu menghasilkan produk olahan dan komoditas primer pertanian yang bernilai tambah lebih tinggi.

Penyebab Kemiskinan
Adalah kewajiban bagi pemerintah di era reformasi ini untuk mengurai simpul-simpul penyebab kemelaratan masyarakat kecil di perdesaan. Ini adalah hutang pemerintah, untuk mengangkat harkat dan derajad mereka, itulah kata yang sering kali diucapkan oleh Ir. Erna Witoelar, Menteri Kimpraswil yang memang sangat perhatian terhadap masyarakat bawah itu.

Ada beberapa faktor utama penyebab semakin terpuruknya kondisi ekonomi masyarakat desa itu ( petani, nelayan, perajin, peternak dan buruh).
Pertama : Kuatnya posisi pedagang perantara yang didukung oleh birokrat perdesaan yang juga turut menikmati sebagian keuntungana dari mekanisme pasar yang tidak berpihak pada petani
Kedua : seluruh pasar baik lokal, regional maupun eksport umumnya telah dikuasai pedagang dengan distribusi income yang semakin tidak adil bagi produsen di perdesaan.
Ketiga : bantuan-bantuan pemerintah seperti JPS sangat kecil yang benar-benar sampai kepada masyarakat yang menjadi target.
Keempat : tingkat pendidikan masyarakat desa yang relatif rendah sehingga tidak mampu menerima modernisasi dalam upaya meningkatkan teknologi untuk mengefisiensikana kegiatan ekonomi mereka.

Tantangan Ke Depan
Lalu bagaimana melibas simpul-simpul penyebab kemiskinan masyarakat perdesaan ini ? Tujuan pengembangan perdesaan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan secara bertahap. Polanya pun tinggal menerapkan. Yaitu melalui
Pembentukan lembaga koperasi oleh masyarakat, agar masyarakat mampu melaksanakan prosesing, pemasaran dan melindungi dirinya dari ulah para spekulan,
Pengembangan produk pertanian unggulan yang berkualitas dan berdaya saing,
Peningkatan kesempatan berusaha dan bekerja guna peningkatan pendapatan,
Pengembangan lembaga-lembaga Pemerintah untuk memfasilitasi kebutuhan modal, kegiatan usaha dan pengembangan SDM di perdesaan.

Kini pendekatan pengembangan perdesaan dilaksanakan secara holistik melalui core business yakni penyediaan prasarana dan sarana dasar perdesaan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, sehingga dicapai pembangunan yang berkelanjutan. Jadi tantangan ke depan tak lain adalah mewujudkan semua itu.










Apakah Sahabat setuju dengan keputusan Pemerintah mengenai resolusi PBB terhadap Irak ?

Menurut Sahabat Siapakah yang akan menjadi presiden RI 2009 ?